The Dagger and The Shield: The Ballistic Missile Defence and Sino-US Strategic Relationship

Ristian Atriandi Supriyanto

Abstract


Menghadapi potensi ancaman serangan senjata rudal pemusnah massal dari rogue states, seperti Iran and Korea Utara, Amerika Serikat (AS) merespon dengan mendirikan program Pertahanan Rudal Balistik (BMD) untuk menembak jatuh rudal-rudal tersebut di angkasa. Akan tetapi, Republik Rakyat Cina (RRC) menganggap program BMD AS itu tidak hanya bertujuan untuk menghadapi rogue states, namun juga RRC. RRC menilai rudal dan senjata nuklir sebagai "belati" yang telah berhasil menjamin stabilitas internasional melalui penciptaan hubungan saling gentar (mutual deterrence) di antara kekuatan-kekuatan nuklir dunia. Sementara program BMD yang diibaratkan sebagai "perisai" dianggap hanya akan mendestabilisasi hubungan tersebut. Guna mengimbangi BMD AS, RRC akan meningkatkan jumlah dan kualitas rudal serta senjata nuklirnya hingga tetap kredibel dalam menjaga hubungan saling gentar dengan AS. Kondisi ini justru akan menciptakan lingkungan strategis internasional yang makin tidak stabil dan bahkan berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir antara RRC dengan AS. Untuk mencegah kondisi tersebut, AS harus meyakinkan RRC bahwa program BMD hanya digunakan untuk menghadapi rogue states.  


Keywords


Ballistic Missile Defense; US-China Strategic Relations; Weapons of Mass Destruction; Mutual Deterrence; Nuclear Arms Race

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.7454/global.v17i1.25

Refbacks

  • There are currently no refbacks.