Vol 17, No 1 (2015)

Global: Jurnal Politik Internasional

Global: Jurnal Politik Internasional edisi kali ini berisi enam tulisan yang sebagian besar terkait dengan isu Keamanan Internasional. Edisi kali ini diawali dengan tulisan Muhammad A.S. Hikam mengenai Pendidikan Mutikultural dalam Rangka Memperkuat Kewaspadaan Nasional Menghadapi Ancaman Radikalisme di Indonesia. Hikam menekankan pada perlunya membangun pendidikan multikultural, terutama dalam sektor pendidikan non-formal di dalam komponen-komponen masyarakat, sebagai alat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam situasi dunia saat ini. Hikam menilai bahwa globalisasi membawa dampak yang tidak sepenuhnya positif terhadap Indonesia karena adanya faktor keragaman. Dampak negatif tersebut mampu merusak sendi-sendi kehidupan di Indonesia yang masuk melalui beragam cara, termasuk penetrasi langsung terhadap toleransi akan keberagaman. Pendidikan multikultural bisa digunakan sebagai saranan untuk menangkal masuknya penetrasi yang sifatnya merusak tersebut.

 

Tulisan kedua, Intelijen dan Diplomasi Internasional, menjelaskan secara rinci mengenai keterkaitan antara intelijen dan diplomasi. Tangguh Chairil, dosen di Universitas Bina Nusantara, secara detil menjelaskan bagaimana hubungan dekat antara intelijen dengan diplomasi mulai terpecah karena adanya spesialisasi fungsi pada periode Perang Dunia Kedua di beberapa negara utama, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis. Meski terpecah, intelijen dan diplomasi masih tetap berjalan seiring dalam tugas melindungi dan memastikan pencapaian kepentingan nasional.

 

Selanjutnya, Ristian Atriandi Supriyanto menulis mengenai dilema pengembangan program pertahanan misil balistik Amerika Serikat dalam The Dagger and the Shield: The Ballistic Missile Defence and Sino-US Strategic Relationship. Tulisan ini menjelaskan bagaimana upaya Amerika Serikat mengembangkan pertahanan misil balistik sebagai sarana yang ampuh untuk menangkal pengembangan nuklir negara-negara pengganggu seperti Korea Utara ternyata memunculkan ancaman bagi negara-negara lain seperti Cina. Pengembangan tersebut memicu Cina mengembangkan persenjataan nuklirnya yang pada gilirannya berpotensi memunculkan pertarungan persenjataan. Untuk bisa membuat program pengembangan pertahanan misil balistik berkontribusi positif bagi stabilitas di kawasan Asia Pasifik, dialog yang konstruktif antara Amerika Serikat dan Cina menjadi hal yang mutlak diperlukan.

 

Tulisan yang disajikan oleh Aisha Rasyidila Kusumasomantri didasari oleh gagasan strategi Hedging yang dilakukan oleh Indonesia dalam hubungan Indonesia dan Tiongkok. Tulisan yang berjudul "Strategi Hedging Indonesia terhadap Klaim Teritorial Cina di Laut Cina Selatan" salah satunya membahas skenario pertimbangan pengambilan kebijakan luar negeri Indonesia sebagai negara middle power di kawasan Asia dalam menghadapi kebangkitan kekuatan ekonomi, politik dan militer Cina. Tulisan ini kemudian disimpulkan dengan mengemukakan pendapat bahwa Indonesia melakukan hedging dengan strategi kebijakan bernuansa pragmatisme ekonomi, indirect balancing, dominance denial serta usaha untuk mengikat Cina sebagai salah satu mitra strategis Indonesia pada tahun 2005.  

 

Tulisan kelima oleh Dira Tiarasari Febrian  membawa gagasan pada pembangunan nasionalisme sumber daya manusia dalam A Nationalis Human Resource as a Vital Asset for Indonesia's Development. Nasionalisme merupakan unsur non-tangible yang menjadi kunci bagi kemajuan suatu negara selain pendidikan dan keterampilan. India dan Cina menjadi dua contoh negara yang mampu dengan baik menanamkan nasionalisme selain memberikan dukungan pendidikan dan keterampilan bagi sumber daya manusianya. Mereka bisa menjadi negara besar dengan adanya dukungan hal-hal tersebut. Indonesia bisa mengikuti pola yang mereka kembangkan untuk menjadi negara besar.

 

Tulisan terakhir dari Ziyad Falahi menyoroti bagaimana kebijakan luar negeri Indonesia dalam Kerjasama Selatan-Selatan justru terjebak dalam Kapitalisme Konsumerisme. Dalam Prospek Diplomasi Indonesia dalam Kerjasama Selatan-Selatan: Refleksi Teoritis Kajian Kapitalisme Konsumen di Era Susilo Bambang Yudhoyono, Falahi mendeskripsikan adaptasi Kapitalisme dengan melibatkan faktor-faktor non-produksi. Kapitalisme menemukan jalan baru dengan menggunakan pola konsumsi sebagai alat untuk mengukuhkan superioritas para kapitalis. Negara-negara Selatan juga terjebak dalam kondisi serupa dengan lahirnya kelompok kapitalis baru di negara-negara Selatan yang mampu mendistribusikan produknya di negara-negara Selatan yang lain. Indonesia tidak mampu keluar dari jebakan Kapitalisme baru tersebut. Kebijakan luar negeri Indonesia jusru mengukuhkan posisi Indonesia dalam kelompok yang paling dieksploitasi.

 

Tulisan-tulisan tersebut, dengan beragam tema, memberikan tambahan pengetahuan mengenai strategi negara untuk mengembangkan kapasitas diri dalam menjadi kepentingan untuk bertahan hidup, berkembang menjadi negara besar, dan berkontribusi bagi stabilitas kawasan.

 

Selamat membaca!!

Depok, 30 Mei 2015